Sabtu, 09 Mei 2020

Kearifan Lokal Suku tengger


Setiap daerah di Indonesia memiliki suku dan budaya dengan keunikannya masing-masing. Di wilayah Jawa Timur terdapat berbagai macam suku, salah satunya yaitu suku Tengger. Suku Tengger merupakan suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru yang meliputi beberapa Kabupaten yaitu; kabupaten Lumajang, kabupaten Probolinggo,  kabupaten Malang, dan kabupaten Pasuruan. Warga suku Tengger tersebut biasa disebut dengan wong tengger atau wong brama.
Orang-orang suku Tengger itu sendiri dikenal sebagai orang-orang yang taat dengan aturan dan agama Hindunya loh sobat. Penduduk suku Tengger diyakini merupakan keturunan langsung dari Kerajaan Majapahit .  oh iya Nama Tengger berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger, yaitu "Teng" akhiran nama Rara An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Jaka Se-"ger".
Bagi suku Tengger, Gunung Bromo atau Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Pada setiap setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara yakni Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Kemudian Upacara ini dilaksanakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Jadi Hingga kini, suku Tengger hidup dengan adat dan tradisinya sendiri serta tidak terpengaruh modernisasi zaman. Padahal tempat tinggalnya sangat mudah dijangkau para wisatawan, baik dari dalam dan luar negeri.
Walaupun akulturasi budaya sangat rentan terjadi. Hal ini tidak membuat goyah sedikitpun suku tangger untuk mempertahankan karekteristiknya, sehingga berabad-abad lamanya adat dan budaya suku tangger tetap lestari hingga saat ini. wah keren bukan?
Begitu pula bahasa yang digunakan masyarakat suku tengger. Mereka masih menggunakan bahasa jawi kuno yang mereka yakini sebagai dialek pada masa majapahit. Ada pula anggapan bahwa bahasa suku Tengger merupakan turunan dari bahasa Kawi dan banyak mempertahankan kalimat-kalimat kuno yang sudah tak digunakan lagi dalam bahasa Jawa modern.
Sering kali ketika kita datang ke gunung bromo kita lihat penduduk suku tangger terlihat menggunakan sarung ya sobat. Wah kenapa ya kira-kira? Jadi ada fakta unik yang perlu sobat ketahui nih. Jadi suku tangger sendiri berkeyakinan bahwa sarung selain dapat berfungsi sebagai pelindung suhu tubuh dari dinginnya pegunungan sarung juga dipercaya dapat mengendalikan perilaku dan ucapan loh. Nah, penggunaan sarung ini dilakukan oleh semua kalangan, mulai usia muda sampai tua, laki-laki dan perempuan.
Selain dari upacara kasada masyarakat suku tengger juga  memiliki upacara karo. Upacara karo ini adalah hari raya terbesar yang paling dinanti-nanti oleh suku Tengger. Karo, biasanya diselenggarakan setelah hari raya Nyepi. Untuk acara yang disajikan yaitu meliputi pawai hasil bumi, kesenian adat seperti pagelaran Tari Sodoran. Kemudian dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke rumah tetangga dan sanak saudara. Untuk ritual Karo ini dipimpin oleh seorang ratu. Ratu di sini mempunyai arti seorang pemimpin yang selalu memimpin doa. Uniknya lagi, ratu adalah seorang laki-laki loh sobat hehe. Masyarakat Tengger ada yang menyebut ratu dengan sebutan dukun.
Kemudian keunikan selanjutnya yaitu ojung, yaitu upacara meminta hujan. Uniknya dari kesenian ini adalah dilakukan dengan cara orang berkelahi satu lawan satu dengan menggunakan rotan. Peserta yang paling banyak mencambuk berarti dia adalah pemenangnya.
Ojung ini bukan hanya sebagai kesenian saja loh sobat, melainkan sebagai ritual untuk meminta hujan kepada yang maha kuasa. Ojung ini biasanya dilakukan saat musim kemarau tiba. Sebelum Ojung ini dimulai, biasanya masyarakat suku tengger mengadakan pagelaran tarian tarian terlebih dahulu nama tarian tersebut adalah Tari Topeng Kuna dan Tari Rontek Singo Wulung.
Tarian ini mengisahkan tentang seorang yang dianggap sebagai pahlawan, seorang tersebut bernama Ju Seng. Pada saat itu Ju Seng adalah seorang demang yang sangat gigih dalam mengusir penjajah. Untuk membiayai perjuangan dalam pengusiran penjajah, Ju Seng sering mengadakan pertunjukan kedua tarian itu. Setelah pagelaran tarian tersebut selesai dilanjutkan dengan pertandingan antara dua laki-laki. Pertandingan tersebut diikuti oleh laki-laki yang memiliki usia 17 sampai 50 tahun.

Dosen anti mainstream


Hallo sobat..

namaku salman al farisyi, Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Kali ini aku akan bercerita terkait pengalamanku belajar dikampus ini dan bertemu seseorang yang biasa aja si tapi keren dan unik. bisa dibilang dosen, kakak, ataupun teman juga bisa. Terserah sih kita nganggepnya apa, beliaunya engga akan keberatan kok sobat. anti mainstream bukan?.

Kenapa aku anggap dosen? Memang beliau seorang dosen di kampusku. Beliau mengajar mata kuliah kewarganegaraan pada semester dua, Fakultas Ekonomi. Beliau terkenal dengan dosen paling santai, asik, receh, dan sabar. Semua anak fakultas ekonomi tau kok sama beliau, Mmm gak semuanya sih. Hanya mahasiswa yang memilih mata kuliah beliau saja . Tapi aku yakin mata kuliah beliau selalu menjadi buruan mahasiswa. Apalagi mahasiswa seperti aku yang gak demen sama tugas-tugas numpuk dan gajelas wkwk.

Kenapa aku anggap kakak? Karena emang permintaan dari beliau sih dipanggil cak ataupun bro. biar serasa lebih muda katanya hehe. Emang beliau tua? Ngga sih beliau masih muda kok. Gak heran beliau berpenampilan layaknya anak muda seperti remaja-remaja jaman sekarang. Bahasa yang beliau gunakan pun sangat santai dan tidak membuat gugup kami para mahasiswanya. Eh adiknya hehe.

Tidak hanya di ruang kelas saja kita menjalin kehangatan berkomunikasi. Di ruang online pun sama. Ya walaupun sebagian dari kami kadang ada yang ngacangin percakapan beliau wkwk. tapi hati-hati loh sobat. Beliau juga diem-diem hobi stalking in kita loh. Eits jangan suudzan dulu sobat. Stalking disini bukan berarti ingin berburu layaknya singa ditengah hutan loh sobat wkwk. stalking yang aku maksud berarti memantau para mahasiswanya. Utamanya dalam bersosial media hehe. Menurut aku, Sudah seharusnya semua pengajar untuk selalu memantau anak didiknya baik didalam maupun diluar ruang belajar hehe.
Kenapa aku anggap teman? Karena ruang sosial kami dengan beliau begitu dekat dan bersahabat. Ya mungkin hal ini merupakan cara beliau untuk membuat kami tenang pada jam kuliah dan enjoy tapi fokus didalam diskusi. Suasana pun ikut berubah sobat. Tak jarang kebanyak mahasiswa aktif didalam diskusi bersama beliau. Hal ini perlu rasanya diterapkan untuk para pengajar yang lain agar ruang belajar semakin efektif dan efesien.
Tapi, ada beberapa hal juga sih yang perlu saya tuliskan dicerita ini. Mungkin ini akan dijadikan pelajaran untuk diri saya sendiri dan orang lain. Jadi, beliau juga sering telat loh sobat hehe. Ya bagi sebagian kurang nyaman dengan hal ini dan sebagian yang lain seperti aku ya suka-suka aja. Ya keterlambatan masuk kelas beliau bukan karena kesengajaan loh sobat. Ya tau sendiri. Malang tidak pernah luput dari kemacetan hehe.
Kemudian didalam belajar di kelas, silabus bukan menjadi acuan kami. Akan tetapi beliau membebaskan kami yang memilih bahan ajar atau mencari materi sendiri. Dan teruntuk satu semester ini kami diajarkan arti sebuah karya. Ya, kami dibentuk tim untuk melukiskan karya melalui sebuah film. Semua mahasiswa sangat antusias dengan hal ini.  walaupun berujung tidak bisa kami lanjutkan karena pandemi covid-19 ini. Sangat disayangkan bukan?
Pandemi ini bukan penghalang kami sebagai murid beliau untuk berhenti berkarya. Walaupun kami tidak lagi bisa melanjutkan proyek film itu, tetap beliau cari cara lain agar kami tetap menciptakan sebuah karya. Bukan sebuah film, melaikan sebuah tulisan yang bisa dinikmati masyarakat luas. Seperti apa yang saya tulis ini hehe.
Hal yang paling aku suka dari pak, cak, mas edi adalah lelucon beliau. Lelucon yang mampu merubah suasana kelas menjadi lebih cair. Dan yang kedua adalah beliau orang yang gemar menghargai orang lain. Yang ketiga adalah cara penyajian materi beliau dapet banget sobat. Walaupun santai tapi kita mudah memahami. Yang keempat beliau suka bercerita dan berdialog, hal ini tentunya sangat membantu mahasiswa dalam melatih skill berbicara mereka.
Teruntuk bapak edi yang saya cintai eak wkwk. semoga bapak selalu berada dalam lindunganNya. Terima kasih atas pelajaran yang telah bapak ajarkan kepada kami. Saya salman al farisyi mohon maaf yang sebesar-besarnya mengucapkan banyak-banyak maaf apabila tulisan saya menyinggung perasaan bapak.
Wassalam...